INDRAMAYU, … [01 September 2025] – Ratusan karung beras Bulog rusak dan tercecer di sawah setelah gudang penyimpanan milik pengusaha swasta di Desa Lombang, Indramayu, jebol pada Jumat (29/8/2025). Peristiwa ini memicu kemarahan publik setelah terungkap bahwa beras yang seharusnya menjadi cadangan pangan masyarakat justru diduga ditimbun dan akan dikomersialkan.
Temuan LSM Ungkap Praktik Penimbunan
Menurut temuan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Bina Lingkungan, gudang pribadi milik pengusaha berinisial D jebol akibat kelebihan muatan (Overload). Kejadian ini mengakibatkan sekitar 10 sampai 15 ton beras tercecer di sawah dan bercampur dengan lumpur, menjadikannya tidak layak konsumsi.
Alex Warsidi, Humas LSM, menyatakan bahwa beras ini telah tertimbun di gudang selama berbulan-bulan. “Kami menduga beras ini sengaja disimpan untuk tujuan komersial, bukan untuk cadangan pangan. Ini merusak citra Bulog,” tegasnya.
Dugaan Modus dan Desakan untuk Penegakan Hukum
Total beras Bulog yang disimpan di gudang tersebut diperkirakan mencapai 500 sampai 600 ton. Alex menambahkan, modus yang dicurigai adalah pengoplosan beras Bulog dengan beras lain sebelum dijual kembali di pasaran, terutama di Jakarta.

Pihaknya mendesak aparat penegak hukum dan Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk segera mengusut tuntas kasus dugaan penimbunan ini.
Tanggapan Pengusaha dan Pihak Bulog
Pengusaha berinisial D mengakui bahwa beras tersebut adalah milik Bulog dan berjumlah sekitar 500 ton. Ia mengklaim penyimpanan dilakukan karena gudang Bulog di Indramayu sudah penuh dan ia membantu sebagai mitra. “Beras yang rusak akan kami ganti. Intinya, jumlah 500 ton akan tetap utuh,” seraya menambahkan “Tidak ada yang mengambil sepeserpun dari biaya sewa, mau diberitakan, mau diviralkan, takkan pengaruh,” Ungkap D.
Namun, saat dikonfirmasi, petugas gudang Bulog Cabang Pekandangan menolak memberikan keterangan, dengan alasan sedang libur.
Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik. Masyarakat berharap ada tindakan cepat dari pihak berwenang agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari, terutama mengingat beras adalah komoditas strategis untuk ketahanan pangan nasional.
Mr .Rawedenk
