INDRAMAYU – Kabar buruk kembali menghantam warga Indramayu di tengah himpitan ekonomi yang kian tak karuan. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Darma Ayu dikabarkan menaikkan tarif air secara signifikan, dari sebelumnya Rp45.000 menjadi Rp75.000 per bulan. Kenaikan ini berarti membebani warga dengan lonjakan hingga 67 persen—angka yang dinilai absurd dan tidak berpihak pada rakyat kecil.
Langkah ini menuai kemarahan warga yang merasa dipaksa membayar lebih, sementara kualitas pelayanan yang diterima tak kunjung membaik. Bahkan, muncul sejumlah catatan kritis terkait dugaan pengelolaan keuangan yang bermasalah di tubuh PDAM.
Hitung-hitungan di Atas Penderitaan: Kenaikan yang Menggerogoti
Dari angka lama 45 menjadi 75, kenaikan nominal mencapai 30 poin. Dengan perhitungan sederhana, persentase kenaikan yang dibebankan kepada rakyat mencapai [(75-45)/45] x 100% = 66,67 persen.
“Kenaikan ini tidak masuk akal, pak. Ekonomi lagi susah, serba mahal, kok malah air yang jadi kebutuhan pokok ikut-ikutan meroket?” ujar Otong, seorang warga Indramayu yang enggan disebutkan namanya lengkapnya, saat ditemui awak media.
Warga menilai keputusan ini sangat kontras dengan kondisi riil di lapangan. Di saat daya beli masyarakat melemah, justru kebutuhan paling mendasar seperti air bersih ikut menjadi beban spekulatif.
Rumah Kosong Tetap Kena Getah: Inikah Bentuk Pelayanan Publik?
Salah satu poin yang paling menyulut emosi warga adalah kebijakan abonemen bagi rumah yang jarang dihuni atau minim penggunaan air. Sejumlah pelanggan mengeluhkan bahwa meskipun rumah mereka kosong berbulan-bulan atau hanya menggunakan air untuk kebutuhan minim, tagihan tetap menganga di angka Rp75.000.
Fenomena ini bukan tanpa preseden. Di beberapa daerah seperti Lamongan dan Cirebon, praktik serupa menuai protes keras karena dianggap sebagai pungutan buta . Di Indramayu, kebijakan ini terasa lebih menyakitkan karena ditempuh dengan persentase kenaikan yang sangat drastis.
“Rumah saya di pinggiran, jarang ditempati karena kerja di luar kota. Setiap bulan tetap bayar mahal. Ini sama saja merampok,” keluh Eko, warga yang nasibnya mirip dengan pelanggan PDAM di daerah lain yang mengeluhkan biaya beban mati .
Warga menuntut sistem tarif yang lebih manusiawi dan berbasis pemakaian nyata (volumetrik), bukan spekulasi biaya beban yang menguntungkan perusahaan semata.
Sorotan Tajam: Akankah Kenaikan untuk Menambal Kegagalan Manajemen?
Lebih dari sekadar nominal, publik mempertanyakan urgensi kenaikan tarif ini. Apakah ini benar untuk peningkatan layanan, atau hanya strategi untuk menambal lubang kebocoran keuangan perusahaan akibat skandal Black Transfer senilai Rp2 miliar?
Diberitakan sebelumnya, skandal black transfer di PDAM Tirta Darma Ayu menjadi sorotan tajam DPRD dan elemen masyarakat . Uang triliunan rakyat diduga mengalir tanpa kejelasan tata kelola.
“Jangan-jangan kenaikan ini untuk menutupi kerugian akibat ulah oknum di dalam. Rakyat diminta bayar lebih, tapi airnya malah sering keruh dan mati,” sindir warga lainnya.
Gerakan Elemen Masyarakat Indramayu (GEMI) bahkan telah mengancam akan mengerahkan massa lebih besar jika kasus dugaan korupsi, termasuk soal black transfer ini, tidak diusut tuntas oleh Kejaksaan . Bagi warga, kenaikan tarif di tengah skandal yang belum clear adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap akal sehat.
Kemana Sikap Bupati Lucky Hakim?
Di tengah panasnya situasi ini, Bupati Indramayu, Lucky Hakim, dinilai terlalu lamban dan tak bertenaga dalam merespon gejolak. Padahal, beliau pernah mengeluarkan kebijakan populis berupa gratifikasi 3 kubik air saat terjadi kekeruhan beberapa waktu lalu . Kini, di saat rakyat benar-benar menderita akibat kenaikan tarif fundamental, ruang publik justru sunyi.
Anggota Komisi III DPRD Indramayu, Anggi Noviah, sebelumnya telah menyayangkan sikap bupati yang seolah “tutup mata” terhadap skandal black transfer dan tidak kunjung mengambil tindakan tegas terhadap jajaran direksi yang bermasalah .
“Jangan hanya bisa kasih keringanan saat air keruh, tapi diam saja saat rakyat dipaksa membayar hampir 70 persen lebih mahal. Selamat ulang tahun, Indramayu? Mungkin ini candanya,” sindir salah satu aktivis yang ikut serta dalam aksi protes.
Kesimpulan: Warga Minta Keadilan, Bukan Sekedar Alasan Teknis
Warga Indramayu menuntut pembatalan kenaikan tarif. Jika alasannya adalah peningkatan layanan, maka buktikan dulu bahwa air benar-benar jernih, tidak mati bergantian, dan tidak ada lagi praktek “black transfer” yang menguras uang rakyat.
PDAM Tirta Darma Ayu dan Pemerintah Kabupaten Indramayu dituntut untuk kembali ke akar masalah: mengelola air sebagai hak publik, bukan komoditas spekulatif yang menambah panjang daftar penderitaan ekonomi masyarakat.
Mr.Rawedenk
